logo
Kembali

Dorong Potensi Desa, Ikatan Perencana Desa (IPD) Menggelar Workshop Membatik

IIPD Indonesia
Berita
2026-08-22
3 menit baca
Dorong Potensi Desa, Ikatan Perencana Desa (IPD) Menggelar Workshop Membatik

MAROS – Banyak desa yang memiliki potensi, tetapi belum dimanfaatkan secara optimal. Misalnya, desa-desa di kawasan karst Maros yang memiliki potensi sejarah, arkeologi, budaya, geologi, dan keanekaragaman hayati. Kekayaan tersebut seharusnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menjadi sumber inspirasi kreativitas warga desa.

Hal tersebut mendorong Ikatan Perencana Desa (IPD) untuk menggelar kegiatan “Workshop Membatik: Cipta Batik dari Desa Karst”. Bertempat di rumah warga di Dusun Pajjaiang, Desa Tukamasea, Maros, pada Jumat (21/8/2026), acara ini sukses menarik minat ibu-ibu rumah tangga, pemuda, dan pelajar di desa. Kegiatan ini menghadirkan Fantri Pribadi dari Lini Studio Batik, Makassar, sebagai trainer.

“Mudah-mudahan dari kegiatan ini lahir kelompok-kelompok usaha binaan. Kegiatan ini merupakan usaha Ikatan Perencana Desa untuk menjadikan Desa Tukamasea sebagai desa binaan. IPD juga berinisiatif untuk memberdayakan komunitas Ikatan Pemuda Pajjaiang sebagai Sister Community, yang turut diajak berkolaborasi untuk menyukseskan kegiatan pelatihan,” ujar Fitrawan Umar, Ketua Ikatan Perencana Desa (IPD) Indonesia, dalam sambutannya.

“Warga desa karst Maros adalah pewaris lukisan-lukisan purba di gua-gua karst, yang merupakan salah satu lukisan tertua di dunia. Jika dahulu manusia purba melukis di dinding gua, sekarang ini kita bisa melukis melalui batik. Dengan Workshop Membatik ini, semoga banyak motif yang dapat diciptakan, seperti lukisan manusia purba, jejak tangan, kupu-kupu, dan lainnya. Kegiatan ini sebenarnya juga adalah usaha untuk aktivasi pengetahuan lokal warga,” tambah Fitrawan Umar, yang juga adalah peneliti BRIN.

Kepala Desa Tukamasea, H. Makmur, menyambut baik dan mengapresiasi kegiatan Workshop Membatik di desanya. “Saya pernah kepikiran untuk membawa beberapa orang belajar membatik di Jawa. Namun, alhamdulillah, sekarang pelatihannya justru diadakan di sini tanpa melibatkan dana desa. Batik ini sangat berpotensi untuk dikembangkan. Apalagi di musim paceklik seperti ini, ketika masyarakat sudah tidak turun bertani, seharusnya dapat dimanfaatkan untuk, misalnya, membuat produk batik. Produk batik desa berpotensi dijual,” ungkapnya.
Workshop Membatik ini merupakan rangkaian acara “Layar Desa di Taman Purbakala Geopark” oleh Ikatan Perencana Desa (IPD) berkolaborasi dengan Ikatan Pemuda Pajjaiang (IPP), dengan dukungan Dana Indonesiana (Indonesiaraya), LPDP, dan Kementerian Kebudayaan RI.

“Workshop ini sangat bermanfaat untuk mendukung ekonomi budaya berbasis komunitas, terutama untuk mendukung pengembangan desa wisata karst Maros,” kata Abdul Masli, Peneliti Wisata Budaya Karst – Yayasan Antropos Indonesia, yang turut hadir pada kegiatan ini. Selain warga Abdul Masli, kegiatan ini dihadiri oleh Ahmad Dahlan (Wakil Ketua IPD), Fauzan Khabir (S2 PWK Unhas), dan beberapa mahasiswa DKV UNM.

“Pengalaman yang sangat berkesan saya (Lini Studio ) bisa berkolaborasi mengikuti kegiatan membatik tulis di Cipta Batik Desa Karst. Kegiatan ini tidak hanya memberikan pengalaman langsung dalam mengenal proses dan teknik membatik, tetapi juga menjadi ruang untuk belajar menghargai warisan budaya dan kreativitas masyarakat lokal. Terima kasih kepada IPD (Ikatan Perencana Desa) yang telah menyelenggarakan kegiatan ini. Suasana belajar yang santai, kreatif, dan penuh kebersamaan membuat proses membatik menjadi pengalaman yang menyenangkan. Semoga kegiatan seperti ini terus dikembangkan sebagai bagian dari upaya melestarikan budaya sekaligus memperkuat potensi ekonomi kreatif di desa,” ungkap trainer Fantri Pribadi.

*Dimuat juga di Fajar.co.id